Beras Warisan Indonesia

Katupek (ketupat) Gulai Paku Lobster dengan beras Bang Ban Kasepuhan Sinar Resmi dari Gunung Halimun


Sudah bukan hal yang baru lagi jika kita mengenal nasi sebagai bahan makanan utama di Indonesia. Namun tahukah Anda kalau ternyata bangsa kita tercinta ini tercatat memiliki lebih dari 7.000 jenis beras hingga tahun 1960-an? Masa lonjakan populasi penduduk setelahnya 'memaksa' para petani untuk beralih ke beras 'mutant' yang mampu menghasilkan lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat. Dan karena beras ini bukan berasal dari pemberian Yang Maha Esa bagi tanah kita, maka daya tahannya terhadap alam pun tidak sekuat beras-beras tradisional. Oleh karena itu dikenallah pestisida dan teknik lain untuk mengamankannya dari binatang pengerat.

Kini, jumlah beras tradisional kita yang masih 'terselamatkan' hanya berjumlah sekitar 300-400 benih di seluruh Indonesia. Para petani ini tidak tersentuh program pemerintah karena tinggal di pedalaman dan beberapa bahkan merupakan suku nomaden, yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Tanda-tanda alam berperan penting dalam proses pertumbuhan padi mulai dari cara bertanam hingga panennya. Keselarasannya dengan alam inilah yang mungkin membuatnya kaya nutrisi, vitamin, dan mineral. Jenis beras yang dihasilkan dan cara mengolahnya di masing-masing daerah pun berbeda. Ada yang ditumbuk dan ada yang digiling, ada yang berderai dan ada yang pulen, ada yang berwarna pink, ungu, hitam, cokelat, merah, bahkan merah-putih. Beras merah putih ini sudah ada di Indonesia sejak abad ke-10, jauh sebelum Indonesia merdeka dan mengibarkan bendera berwarna merah putih.

Bazaar bersama Maharasa Indonesia mewujudkan sebuah rice pairing dalam pemotretan ini. Menu tertentu yang akan lebih nikmat rasanya jika disantap bersama nasi jenis tertentu juga.

Simak artikel lebih lengkapnya di majalah Harper's Bazaar Indonesia edisi Agustus 2013.

(Teks: Stella Mailoa. Styling: Melur Pinilih. Foto: Hansel Mario)