Perlukah Mencuci Pakaian Baru Sebelum Memakainya?

Karena banyak risiko berbahaya di balik kesenangan instan Anda.



Ketika Anda membeli sebuah baju baru atau membuka plastik berisi legging terbaru untuk kelas olah raga Anda, seketika rasanya Anda hanya ingin memakai pakaian itu saja sepanjang minggu. Dan Anda ingin mengenakannya sekarang juga.

Lalu muncul sebuah percakapan di dalam benak Anda: “Jadi mungkin sudah ada beberapa orang lain yang mencoba baju ini sebelum saya, tapi, itu tidak apa-apa. Saya tidak perlu mencuci secepatnya, atau saya justru harus melakukannya?

Semuanya terlihat fancy dan rapi, terlipat di dalam bungksunya, tidak berkerut dan dibalut dengan kartas tisu, seperti sedang menunggu saya untuk memakainya sekarang juga.”

Sebelum Anda mengenakan baju baru itu dan keluar dari rumah, Anda mungkin harus mempertimbangkan beberapa hal dan mendengarkan beberapa saran seperti yang dikatakan Lana Hogue, ahli manufaktur pakaian yang menjadi dosen untuk kelas Garment Industry.

“Anda harus mencuci setiap pakaian yang baru Anda beli sebelum memakainya, terutama yang akan bersentuhan langsung dengan kulit atau jenis pakaian yang akan Anda gunakan untuk kegiatan berkeringat,” ujar Lana.

Bahkan saat potensi perpindahan bakteri dari orang lain tidak begitu menjadi masalah bagi Anda, sebenarnya unsur kimia yang terkandung dalam baju itu sendiri yang seharusnya menjadi perhatian Anda.

Menurut Lana, hampir setiap benang atau bahan yang dicelup untuk proses pewarnaan membutukan cairan kimia untuk mengubahnya menjadi pakaian jadi. Dan unsur-unsur kimia tersebut memiliki efek samping, misalnya, contact dermatitis, seperti gatal yang disertai bentol merah yang muncul di area tubuh yang terpapar langsung dengan bahan yang sudah terkontaminasi.“Sebagian besar unsur kimia yang dipakai untuk pewarnaan bahan dan benang yang kemudian diproses dengan mesin adalah penyebab iritasi pada kulit,” jelasnya.

Ia menambahkan lagi bahwa pembuat bahan (tekstil) menggunakan zat kimia seperlunya. “Banyak orang mengira bahwa hanya pakaian saja yang terekspos oleh zat-zat tersebut. Faktanya adalah, bukan hanya perawatan pakaian yang menggunakan bahan kimia, tapi begitu juga dengan pembuatan tekstilnya,” tegasnya.

Dalam industri komersil, tekstil yang sudah jadi diberi pelembap khusus. Kemudian benang disemprot dengan cairan anti jamur plus cairan kimia lainnya yang bisa membuat setiap gulungan benang tadi mudah dibentuk untuk menjadi lembaran bahan.

Zat kimia juga dibutuhkan untuk mempertahankan warna celupan agar lebih menempel pada tekstil. “Bahkan serat natural sekalipun membutuhkan bahan kimia yang (sebenarnya) berbahaya untuk kulit. Walaupun Anda membeli kemeja dengan klaim 100 persen katun,” jelas Lana.

Bagi Anda yang menyadari label 'made-in', berarti sudah mengetahui bahwa pakaian itu berasal dari berbagai penjuru dunia, begitu juga dengan material, penjahitan, dan pewarnaan yang berasal dari banyak negara.

Setiap negara ini kemudian memiliki regulasi yang berbeda terhadap penggunaan bahan kimia. Komponen seperti azo-niline dan resin formaldehyde dianggap sangat lazim, padahal zat ini bisa menyebabkan iritasi pada kulit.

Lana lalu meneruskan, “Formaldehyde adalah carcinogen (faktor penyebab kanker) dengan tingkat kategori ke-3, yaitu jenis bahan kimia dengan risiko paparan paling rendah, sehingga diasumsikan tidak berbahaya.

Tapi tetap saja, apakah ada orang yang ingin dirinya terekspos langsung dengan zat yang dapat menyebabkan kanker secara berulang kali?” Bahkan sebuah studi yang dilakukan oleh U.S Government Accountability Office di tahun 2010 menemukan bahwa material yang dijual murah atau diskon adalah material yang sudah melewati ambang batas penggunaan kadar resin berjenis formaldehyde di Amerika Serikat.

Donal Belsito, seorang profesor dermatologi dari Columbia University Mecical Center di New York, berkata kepada The Wall Street Journal bahwa kasus mencuci pakaian kini lebih dari sekadar manufaktur tekstil tapi mulai merambah ke dressing room, yang bisa menjadi tempat perkembangbiakan bakteri, kutu, dan jamur karena kita tidak bisa menelusuri siapa saja yang sudah mencoba pakaian tersebut sebelum Anda.

“Saya penah melihat kasus di mana ada perpindahan kutu akibat ia mencoba pakaian di sebuah toko, dan ada juga penyakit infeksi yang bisa berpindah melaui pakaian,” ujarnya kepada Wall Street Journal.

Untungnya, mencuci pakaian baru sebelum Anda memakainya bisa mengurangi segala risiko-risiko tadi secara signifikan. Perhatikan baik-baik untuk pakaian yang langsung bersentuhan dengan kulit Anda dan cenderung terkena keringat, seperti pakaian musim panas.

Berikut adalah must-wash list dari Lana:

  1. Kaus kaki

  2. Pakaian dalam

  3. Kaus dalam

  4. Pakaian olah raga

  5. Celana pendek

  6. Gaun musim panas

  7. Baju renang yang tidak langsung Anda pakai

“Jika Anda ingin memakainya saat udara di luar masih panas dan akhirnya akan menimbulkan keringat, maka Anda harus mencucinya. Karena ketika berkeringat, pori-pori di kulit Anda akan terbuka dan menghisap bahan kimia dari pakaian Anda,” saran Lana.

Berikut adalah daftar material yang menurut Lana tidak membutuhkan pencucian sebalum dipakai:

  1. Baju renang yang langsung Anda pakai untuk berenang, “Karena sesaat setelah Anda berada di dalam air, bahan-bahan kimia akan ikut luntur,” ujar Lana.

  2. Baju pesta, karena Anda tidak mungkin mencuci evening gown di mesin cuci.

  3. Outerwear, karena tidak terkena langsung secara langsung.

“Kalau jaket, Anda memiliki tendensi untuk mencucinya, lagipula jaket tidak langsung bersentuhan dengan kulit maka tidak akan menyebabkan iritasi,” tambahnya. Lana juga menjelaskan untuk tidak perlu menghiraukan peringatan 'dry clean only' saat Anda datang ke tempat laundry.

“Sebenarnya dengan dry clean Anda hanya akan menambahkan unsur kimia 'segar' ke tekstil, jadi saya akan membiarkannya sejenak di ruangan terbuka sebelum memakainya.”

Untuk jenis pakaian lain: walaupun Anda tidak bisa langsung memakai legging baru Anda ke kelas olah raga, namun meluangkan waktu untuk mencuci pakaian terlebih dahulu sangat dianjurkan. Lebih baik menunda kesenangan untuk kepuasan diri sendiri demi menghindari tubuh Anda dari risiko bahan kimia yang berbahaya.

(Foto: Shutterstock/Nejron Photo/click photos)