Begini Kisah Perjalanan Richard Kyle dalam Menyelamatkan Orang Utan

"Everyone who has a voice should make a chance, make a difference, or put an effort," ungkap Richard.

(Foto: Courtesy of Instagram @richo_kyle)


Di episode terbaru dari seri Brunch with Dave Hendrik, dalam rangka merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Laut Sedunia, Dave mengundang salah satu sosok figur publik yang memang dikenal memiliki kecintaan yang luar biasa pada alam, terutama alam Indonesia. Dan sosok tersebut adalah pria kelahiran Melbourne tahun 1987, Richard Kylie. Membahas tentang "Mencintai alam Indonesia" mari simak bagaimana perjalanan Richard untuk membantu menyelamatkan salah satu binatang yang sudah terancam punah, orang utan untuk dapat kembali ke habitat aslinya.


Hi Richard, how are you doing? And in which part of the country are you in” Dave bertanya membuka perbincangan.

“I’m good. Aku kebetulan sudah balik ke Jakarta. Kemarin baru dari Kalimantan Tengah,”jawab Richard mendenga pertanyaan yang dilontarkan oleh Dave.

Mendengar jawaban dari bintang tamunya hari ini, Dave pun dengan sigap membahas alasan mengapa Richard Kyle menjadi persona yang tepat untuk diajak berbincang-bincang di episode kali ini, “Nah, itu sebabnya kita tangkap kamu di Brunch with Dave di Bazaar karena kita ingin bahas tentang mencintai alam Indonesia, because we know Richard baru balik dari Kalimantan. Boleh cerita what did you do di Kalimantan?”

“Sebetulnya aku ikut kampanye untuk melepaskan orang utan ke hutan. Jadi aku bekerja bersama BOS Foundation dan kita selalu ada kampanye untuk menyelamatkan orang utan, rehabilitasi, lalu dilepas kembali. Jadi itu prosesnya untuk melestarikan orangutan, kita kembalikan orang utan ke hutan supaya seperti apa yang kita yakini yaitu untuk membuat hutan kita tumbuh dan hutan-hutan ini dijaga serta dipelihara oleh spesies ini,” cerita pria berdarah Australia ini kepada Dave.

“Oke berarti rehabilitasi yang dilakukan adalah melihat orang utan yang butuh diselamatkan, mungkin karena tidak sehat gitu kali ya Richard?” tanya Dave penasaran.

“Bukan, jadi biasa kita menyelamatkan orang utan itu karena deforestasi, karena bisa dibilang mungkin kita ambil rumah mereka, jadi ketika kita menyelamatkan orang utan itu kan harus ada proses untuk mereka bisa jadi mandiri sebelum dikembalikan ke hutan. Contohnya, biasa orang utan kan akan nempel dengan ibunya selama 8-10 tahun. Jadi dari bayi sampai 8 tahun biasanya mereka akan nempel dengan ibunya, jadi kalau kita selamatkan anak orang utan itu berarti kan kita harus ajarkan dari nol hingga dia masuk kelas rehabilitasi supaya dia bisa mandiri, sudah belajar bagaimana manjat, bagaimana cari makanan, lalu dari situ jika mereka sudah lulus atau bisa mandiri, mereka kemudian akan daftar untuk pre-release island dulu, lalu harus lulus dulu sebelum kita lepas ke hutan yang dijaga,” Richard kembali memaparkan bagaimana proses rehabilitasi yang biasa dilakukan oleh makhluk yang hampir terancam punah.

“Oke, on your last visit, berapa orang utan yang akhirnya kalian kembalikan ke hutan?”

“Tujuh. Nah, proses mengajarkan tujuh ekor orang utan untuk hidup mandiri itu memakan waktu berapa lama Richard?” Dave kembali melempar pertanyaan.

“Tergantung ya, kalau kita rescue orang utan kalau dia masih bayi itu pasti sekitar 8 tahun sebelum mereka sudah menjadi dewasa dan mandiri, jadi rata-rata selama itu biasanya, but can be long as well, lebih di atas 10 tahun. So sebenarnya proses rehabilitasi orang utan ini it’s not easy. Kita bukan ambil orang utan lalu lepas kapan waktu. Jadi kita harus ikuti proses supaya orang utan bisa tetap di hutan,” ungkap Richard.

Penasaran dengan habitat asli para orang utan, Dave kemudian masuk lebih dalam dengan bertanya mengenai kondisi hutan di daerah Kalimantan saat ini, “Just out of curiosity walaupun ini pembahasannya sudah banyak sekali, kondisi hutan di Kalimantan itu seperti apa sih saat ini sehingga orang utan kita itu kehilangan rumah mereka?”

“Kita bisa lihat ya dari datanya dari tahun ‘50-an hingga sekarang of course hutan di Kalimantan berkurang sekali, so the deforestation is real. Dan that’s why penting untuk melestarikan orang utan supaya hutan kita bisa kembali tumbuh dan berkembang karena orang utan is one of the key species yang tebarkan biji-biji kemana-mana, so we really strongly believe keeping the species alive and making sure Indonesia understand that this species memang aset karena at the end of the day we need oxygen to breath,” jelas Richard.

“Yang ingin aku tahu semenjak kapan Richard punya ketertarikan terhadap pelestarian orang utan?”

“Itu sepertinya lima tahun yang lalu, jadi aku belajar banyak tentang orang utan, tentang hutan kita dan mengapa kita harus peduli dengan hutan kita karena jika dipikirkan kembali kita adalah salah satu hutan terbesar di dunia dan selama 70 tahun kita sudah lihat bagaimana deforestasi yang terjadi jadi harusnya kita sadar dan membuat perubahan. Everyone who has a voice should make a chance, make a difference, or put an effort,” bagi Richard.

Nantikan video perbincangan lengkap Dave Hendrik dengan Richard Kyle dalam episode Brunch with Dave Hendrik yang akan tayang segera di kanal YouTube Harper's Bazaar Indonesia segera.

(Foto: Courtesy of Instagram @bazaarindonesia, @richo_kyle)