Benang Merah, Sebuah Refleksi Kematangan Biyan

Kali ini, Biyan menghelat pergelaran busana koleksi teranyarnya dalam gejolak yang membara.



Perjalanan 34 tahun seorang Biyan Wanaatmadja dalam mengarungi mode Tanah Air menandai banyak hal, termasuk kedewasaan emosional. Sang maestro nampaknya memahami benar bahwa estetika turut hadir di dalam ketidaksempurnaan.

"Ada sebuah evolusi dalam setiap fase perjalanan hidup setiap orang yang secara tidak langsung akan membentuk dan menempa karakternya," ucap Biyan. Sehingga lahirlah koleksi bertajukBenang Merah, sebuah rangkuman pengalaman, memori, entah bahagia atau sentimental, semuanya menyatu dalam komposisi yang selaras.

Napas kombinasi yang cukup ekstrem tersebut semakin menegaskan kepiawaian Biyan yang terkenal berkat intrikasi detail di atas kanvas romantisme.

Namun, ada yang berbeda kali ini. Seolah ada spirit yang sedang menggelora, warna merah sedang ingin menuai ekspresi takjub dan menghentak panggung. Hal ini tak lepas dari akumulasi sejarah, media, bentuk, warna, tekstur, dan suara yang dirasakan melalui indra pengalaman pribadinya,

Ditambah visinya dalam mengambil ilham dari arsip koleksinya terdahulu yang kembali diterjemahkan dalam persepsi yang baru. Rupanya, Biyan memang sedang mengeksplorasi tekstur dan warna kontras.

Banyak semburat dan gradasi merah yang hadir, koral, biru indigo, palet zaitun, dipadu denganoff white,beige, emas, perak, dan hitam. Proses eksprerimental tetap terjaga dalam porsi yang cantik, penentuan siluet, volume, dan material, juga diperkaya dengan inspirasi kain Chintz yang berasal dari Gujarat, India.

(Gusti Aditya, Foto: Firman Maksum, Video: Dok. Youtube Davy Linggar)