Perancang Busana Ternama, Alber Elbaz Dikabarkan Tutup Usia

Perancang itu terkenal karena pengaruh dan kesuksesannya membawa kejayaan bagi rumah mode Lanvin.



Perancang tercinta Alber Elbaz, yang terkenal akan pengaruh dan kesuksesannya membawa kejayaan bagi rumah mode Lanvin, dan juga baru-baru ini hadir dengan lini barunya bertajuk AZ Factory, telah meninggal dunia pada usia 59 tahun setelah pertempuran selama berminggu-minggu dengan Covid-19.

Richemont, mitra usaha Alber di AZ Factory, mengonfirmasi berita tersebut dalam sebuah pernyataan. “Dengan keterkejutan dan kesedihan yang luar biasa saya mendengar tentang kematian mendadak Alber,” ungkap Ketua Richemont, Johann Rupert. “Saya selalu terpikat oleh kecerdasan, kepekaan, kemurahan hati, dan kreativitasnya yang tak terkendali. Ia adalah pria dengan kehangatan dan bakat yang luar biasa, dan visi tunggal, estetika, dan empati yang telah meninggalkan kesan yang tak akan pernah pudar."

Perancang berdarah Maroko-Israel ini pernah menjabat sebagai direktur kreatif untuk rumah mode asal Prancis, Lanvin dari 2001 hingga 2015, yang berhasil menanamkan label bersejarah (yang didirikan pada 1899 oleh Jeanne Lanvin, dan yang menjadikannya rumah mode tertua ketiga yang masih beroperasi) dengan sisi sensualitas dan menggembirakan. Pertunjukan runway-nya, biasanya diadakan pada malam hari, sering kali memiliki kesan pesta yang elegan dengan musik yang bagus daripada pertunjukan runway biasa. Sebelum berkarya di Lanvin, Alber juga pernah bekerja untuk Geoffrey Beene, Guy Laroche dan YSL.

Pada bulan Januari tahun ini, Alber mengumumkan berita kembalinya dirinya ke dunia mode dengan menghadirkan label busananya sendiri bertajuk AZ Factory, lini pakaian siap pakai yang mengedepankan gagasan peduli. "Saya telah memimpikan selama bertahun-tahun tentang penyetelan ulang dunia mode yang lebih peduli, dan mimpi itu bahkan lebih relevan saat ini pada saat orang tidak bisa bersama," ungkap Alber dalam sebuah pernyataan pada saat peluncuran AZ Factory.

Jelas terlihat bahwa dalam industri yang cenderung memprioritaskan tren dan apa pun yang mampu terjual, namun Alber memiliki visi yang berbeda. "Saya tidak berpikir Anda bisa menjadi seorang desainer jika Anda tidak peduli, atau menjadi kreatif jika Anda tidak sensitif," katanya kepada Harper's Bazaar dalam sebuah wawancara tahun 2007. “Anda harus peka untuk merasakan sesuatu dan memahami orang-orang."

Fashion telah lama didominasi oleh pria yang mendesain untuk wanita, dan Alber selalu menonjol sebagai salah satu desainer yang mencintai dan menghargai wanita. Desainnya memamerkan bentuk dan kecantikan wanita melalui siluet yang menawan dan mudah dikenakan, seksi namun tetap nyaman. "Saya mencintai wanita," lanjutnya dalam wawancara tersebut. "Saya lebih cocok dengan wanita daripada dengan pria, dan saya memiliki lebih banyak teman wanita."

Bersama dengan industri mode lainnya, Harper's Bazaar berduka atas kehilangan yang begitu besar ini.

(Penulis:Leah Rose Chernikoff; Artikel ini disadur dari Bazaar US; Alih bahasa: Janice Mae; Foto: Courtesy of Bazaar US)