Para Istri, Ini Tips Berkomunikasi dengan Sang Suami Agar Dapat Berbagi Peran di Rumah dari Ivy Batuta

Pesan Ivy Batuta kepada seluruh ibu-ibu di dunia: You are love, you are strong, you are enough.

(Foto: Courtesy of Instagram @ivybatuta)


Masih dalam suasana menyambut Hari Ibu yang akan jatuh pada tanggal 22 Desember mendatang, seri Brunch With Dave Hendrik kali ini mengundang salah satu sosok ibu tangguh, Ivy Batuta yang bukan hanya menjadi ibu bagi kedua putrinya, namun sampai saat ini juga masih aktif bekerja.

“Teman-teman Bazaar, akukenal Ivy dari semenjak dia belum kawin, tapi aku ingin dia menceritakannya secara langsung, menurut elo apa yang paling berubah semenjak menjadi seorang ibu?” buka Dave.


“Yang paling banyak berubah sih sebenarnya adalah pelajaran sabar yang tidak terhingga ini ya. Jadi kan gue orangnya ini tidak sabaran, terus maunya apa-apa serba terburu-buru, kalau orang yang tidak sabar kan sepertinya kemampuan mendengarnya juga kurang ya. Nah, pelajaran sabar yang tidak ada kurikulumnya di sekolah-sekolah itu didapatkan dari menjadi seorang ibu, menahan emosi, gimana kalau caranya ngomong itu dipikir dahulu, itu sih yang paling gue pelajari,” jelas ibu dua anak tersebut.


Waduh, pelajaran sabar tidak ada dikurikulum sekolah ya bu. Nah, aku sekarang ingin masuk lebih dalam, tema episode kita hari ini kan adalah tantangan peran ganda nih, peran sebagai ibu dan peran sebagai istri. Aku ingin membahas dahulu peran kamu sebagai istri. Jadi sudah memasuki tahun keberapa nih pernikahan kamu dengan Eduardus Napitupulu?” tanya Dave.


“Jadi gue tuh sudah 12 tahun. Dari pernikahan yang sebenarnya kita tidak menyangka sih maksudnya akan benar-benar seperti ‘ternyata gue sama elo ya dan elo sama gue’ karena kan tadinya gaya pacarannya santai, makanya tuh Dave biasa yang santai-santai malah jadi serius,” cerita Ivy sambil mengenang perjalanannya dengan sang suami ketika masih pacaran.


“Vy, berbicara mengenai kesantaian karena buat aku ya teman-teman Bazaar, potret kehidupan rumah tangga Ivy dan suami itu adalah potret kehidupan rumah tangga yang modern sekali. Bahkan beberapa tahun yang lalu di pertemanan kita Ivy sempat bercerita bahwa elo sama Edu itu membagi tugasnya tidak seperti peran suami-istri yang konvensional. Kalau yang konvensional secara teori adalah suami yang kerja, ibu rumah tangga urus anak, urus rumah tangga di rumah. Kalau elo kan berbeda. Cerita dong mengenai itu Vy,” pinta Dave.

“Ya, jadi trigger-nya itu adalah waktu itu gue siaran tuh di Cosmopolitan FM. Nah, tiba-tiba waktu gue siaran ditelpon karena katanya pembantu minta pulang, terus di situ gue agak kesel banget, agak-agak emosi, terus gue pulang berpikit kenapa sih pas lagi kerja kenapa harus gue juga yang menyelesaikan untuk masalah ART ini. Menurut gue ini selalu berkaitan dengan perempuan ya. Ibu itu sepertinya tugasnya banyak sekali. Sorry nih, sampai itu dianggap bahwa seorang ibu itu adalah orang yang mengurusi printilan rumah tangga. Malah ya extreme-nya dikatakan bahwa kodrat perempuan, kodrat perempuan itu adalah mengurus rumah. Tapi salah, menurut gue kodrat perempuan itu hamil, melahirkan, menyusui. Nah, itulah tiga ini kodrat perempuan. Tapi kalau dibilang ngurus rumah, mencuci baju, ngepel, itu bukan kodrat perempuan kali! Ya dong? Bukan. Itu adalah tugas aja. Dan itu adalah tugas laki-laki dan perempuan," ujar Ivy.

"Jadi gue berpikir sekali, maksudnya kalau Edu berpikir seperti itu tidak salah karena hampir semua orang berpikir demikian kecuali mungkin orang-orang yang lama di luar negeri. Nah akhirnya suatu hari ketika gue sudah berpikir bagaimana cara menyampaikannya, terus akhirnya gue ngomong tuh sama suami, gue bilang gini ‘Edu, elo tahu kan bahwa kita berdua itu sama-sama bekerja, artinya gue bisa saja sih sebenarnya di rumah, terus gue tinggal minta deh sama elo, karena seperti yang kita ketahui kan tugas laki-laki itu membiayai rumah tangga, nah tapikita tahu kalau elo yang biayai rumah tangga saja itu sebenarnya tidak bisa mencukupi kebutuhan kita. Kita harus ada dari dua dapurlah yang berarti karena penghasilan gue dan elo untuk mencukupi rumah ini, artinya ada peran elo sebagai seorang pria yang gue ambil, yaitu bekerja yang sebenarnya kalau gue mau di rumah aja gue tidak apa-apa tapi kira-kira cukup ga? Kan enggak. Nah, artinya dengan demikian gue mengambil peran elo sebagai laki-laki untuk membiayai rumah ini, nah berarti peran gue sebagai perempuan yang menurut elo adalah ngurusin rumah ini segala macam harus kita bagi dong karena kalau tidak, tidak balance, gue akan lelah," lanjutnya.

"Artinya gini kalau elo lagi kerja gue tidak akan telepon elo tuh untuk ganggu segala hal mengenai di rumah. Dan gue berharap elo juga begitu ya, nanti kalau misalnya gue lagi kerja, untuk hal-hal yang menurut elo bisa elo tangani sendiri, tangani sendiri, elo jangan lapor-lapor gue, biarkan gue bekerja damai, kecuali anak sakit, hal-hal krusial atau emergency, keluarga ada apa-apa baru deh boleh dan sampai hari ini Dave gue bisa kasih jempol untuk Edu karena kenapa? Kebetulan kita baru kedatangan ART baru kemarin, terus dia itu adalah orang yang memberi tahu segala hal. Jadi gue kasih tahu sedikit, terus dia yang melengkapi. Jadi yang tiap hari mengecek tugas ART adalah dia dan yang me-review kerjaan ART juga dia Dave sampai detik ini. Kalau tidak ada ART, yang pasti nyampu dan ngepel itu udah pasti Edu. Misalnya gue nyapu, dia yang ngepel. Kalau nyuci baju itu gue, kalau yang ngejemur atau yang berat-berat itu pasti Edu. jadi kita berbagi aja dan tidak ada istilah semua pekerjaan itu gue yang kerjain gitu,” cerita Ivy.


“Oke, setelah dengar cerita elo, gue ingin bertanya lagi, sekarang dari diri elo sebagai istri dan sebagai perempuan, apa yang berubah semenjak adanya pembagian tugas yang jelas ini?” Dave bertanya.


Gue jadi semakin bisa terbuka sih. Berkomunikasi dengan pria itu kan tidak mudah karena kita kan wanita itu kan biasanya tersirat, nyindir-nyindir gitu kan kalau lelah itu tidak mau ngomong. Nah dengan adanya pembagian tugas ini gue jadi belajar bahwa gue bisa ngomong apapun sama laki gue dan bisa berdiskusi apapun. Karena setelah kesepakatannya tercapai, ya berarti kan pemahamannya dia adalah pria yang sudah diajak berkomunikasi. Jadi gue melihat komunikasi gue juga baik. Selain itu gue juga jadi lebih respect terhadap sosok pria bahwa ternyata pria tidak seegois yang gue pikir kok. Namun selagi elo bisa menemukan analogi yang tepat, ngomong tidak berbelit-belit, selagi elo masih bisa memberikan contoh, gue rasa pasti akan mudah mengerti,” imbuh Ivy.


“Oke, jadi tips komunikasi untuk perempuan, untuk para istri kalau ingin berkomunikasi lebih jelas dengan suami-suami, sadari kalau perempuan suka berbicara berbelit-belit, jadi berbicaralah dengan cara yang lebih jelas. Jangan diulang-ulang, jangan suka nyindir ya,” rangkum Dave.

Untuk menutup perbincangan pada episode ini, Dave pun meminta Ivy untuk memberikan sedikit sedikit pesan kepada semua istri-istri di luar sana yang sedang menyaksikan episode Brunch With Dave Hendrik yang disiarkan pada Sabtu, 19 Desember 2020.

"Pokoknya you are love, you are strong, you are enough! Sudah tiga itu saja. Kita perempuan itu dicintai, jadi jangan merasa bahwa kita tidak dicintai. Ingat, kita itu dicintai. Ingat juga bahwa suami adalah manusia. Dipikirkan saja bahwa kalian berdua itu berangkat dari cinta. Jadi pasti ada cintanya. Jangan juga biarkan suatu masalah berlarut-larut parah dulu baru dibahas. Lalu kalau juga sedang membahas masalah dengan suami, untuk perempuan-perempuan jangan lupa tidak usah bertele-tele seperti kaset rusak. Satu kali cukup. Ingatkan kepada suami ketika satu menjadi api, yang lainnya harus menjadi air," tutup Ivy.

Nantikan perbincangan Dave Hendrik dengan Ivy Batuta dalam seri Brunch With Dave Hendrik yang akan tayang di kanal YouTube Harper's Bazaar Indonesia segera!

(Foto: Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia, Instagram @ivybatuta)