Lukisan Wayang Golek Kristus Memikat Bulgaria

Sebuah karya reproduksi budaya yang memesona dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat Bulgaria.



Sebagai proses interaksi sosial, pemaknaan budaya bersifat konstekstual dengan situasi yang berkembang pada satu masyarakat, termasuk di dalamnya ‘memaknai’ kembali seni-seni tradisional bangsa Indonesia yang pernah hidup di masa silam yaitu seni tradisi wayang. Dahulu seni tradisi wayang digunakan sebagai sarana penyebaran nilai-nilai agama Islam di nusantara, hal tersebut membuktikan bagaimana seni tradisi terbilang efektif sebagai media komunikasi dan interaksi. Jika seni tradisi wayang identik dengan penyebaran nilai-nilai dan ajaran Islam di masa lalu, maka dalam konteks kekinian pelukis modern-kontemporer Sasya Tranggono mencoba melakukan konstruksi sosial dengan menghadirkan wayang dalam konteks pendekatan nilai-nilai dan ajaran agama Kristen.


Melalui karya Last Supper #1 dan Last Supper #3 (cat air di atas kertas, 200 x 115 cm), Sasya Tranggono mencoba melakukan interpretasi karya pelukis besar Leonardo da Vinci, The Last Supper, yang menggambarkan Kristus bersama 12 muridnya pada satu ‘perjamuan terakhir’. Lukisan tersebut yang diwujudkan melalui figur-figur Kristus dan para muridNya dengan bentuk wayang golek, posisi Kristus sebagai tokoh sentral pada lukisan tersebut digambarkan dengan sosok yang dominan, mengenakan jubah putih dan dikelilingi para murid. Karya lukisan wayang Kristus ini dipamerkan di pameran Wonders of Indonesia, di The National Art Gallery (The Palace), Sofia, 6 Oktober sampai 27 November 2017 yang lalu, berdampingan dengan karya-karya seniman modern-kontemporer Indonesia dan lukisan modern-kontemporer koleksi Galeri Nasional Indonesia, yaitu Affandi, AD Pirous, Popo Iskandar, Batara Lubis, I Ketut Tagen, Sentot, Nyoman Arsana, Hatta Hambali, Tatang Ganar dan Mulyadi.


Pendekatan Kultural pada Seni Lukis Modern

Terlepas dari pesan moral yang terdapat pada karya tersebut, ada fenomena menarik dari karya-karya tersebut, yaitu bagaimana seniman mencoba menghadirkan ‘sosok’ Yesus Kristus dengan karakter wayang golek. Sasya mencoba membaca ulang sejarah dengan pendekatan kultural agar dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, yaitu melalui seni tradisi. Dahulu, wayang merupakan seni pertunjukan yang populer di masyarakat. Sejalan dengan dinamika masyarakat dan perkembangan teknologi, eksistensi wayang kian terpinggirkan. Berangkat dari keprihatinan tersebut, Sasya mencoba menghadirkan wayang sebagai pembawa pesan moral dengan konsep seni lukis modern.


Ketika menggambarkan sosok Kristus dengan pendekatan wayang golek, Sasya tidak lagi merasa penting mempersoalkan akar kesejarahan bahwa Kristus lahir di wilayah Timur Tengah dengan sosok berjubah putih. Atau Kristus digambarkan dengan pendekatan seni rupa high art, yaitu lukisan klasik seniman abad pertengahan. Bagi Sasya, persoalan tersebut sudah selesai. Sekarang bagaimana sebagai seorang seniman mampu menghadirkan sosok Kristus dengan pendekatan reproduksi budaya melalui local wisdom bangsa Indonesia. Seperti dikatakan Calclini, bahwa budaya merupakan simbol produksi dan reproduksi masyarakat. Reproduksi budaya merupakan bertemunya dua budaya yang berbeda dan satu sama lain saling memengaruhi sehingga timbul satu kebudayaan baru yang mengandung unsur dua kebudayaan tersebut. Lukisan cat air Sasya yang terinspirasi budaya Jawa telah menghasilkan kebudayaan baru, yaitu “Kristus rasa Jawa”. ‘Rasa Jawa’ pada lukisan wayang Kristus Sasya, dapat kita amati melalui nilai-nilai simbolis dari pendekatan konsep material culture, misalnya tongkat kayu yang selama ini melekat pada benak masyarakat kita sebagai atribut wayang golek, tiba-tiba diletakkan di tangan Kristus. Pemilihan batik pada busana wayang golek kian memperkuat identitas ‘rasa Jawa’ pada wayang Kristus tersebut. Dimensi simbolis dari artefak yang tersirat pada karya-seni lukis sesungguhnya berbanding lurus dengan proses reproduksi sosial yang terjadi pada sebuah masyarakat.


Sebagai proses reproduksi budaya, kehadiran wayang “Kristus rasa Jawa” , merupakan cerminan konsep kebudayaan yang terus bergulir dan dimaknai secara dinamis dalam masyarakat, sehingga budaya merupakan sesuatu yang berkelanjutan tanpa henti. Pada titik ini masyarakat tidak lagi memperdebatkan akar kesejarahan dari mana Kristus lahir dan besar, prinsipnya Kristus boleh hadir di mana saja dengan atribut budaya lokal. Di tangan seniman sah-sah saja Kristus digambarkan dengan konteks kebudayaan di mana seorang seniman itu hidup dan berkarya, dalam hal ini dengan pendekatan wayang golek. Selama masyarakat tidak mempersoalkan lahirnya reproduksi budaya, di sanalah meaning atau makna budaya telah lahir melalui konvensi yang disepakati berbagai elemen masyarakat, yaitu pelukis, masyarakat, penikmat seni, kurator dan institusi/lembaga-lembaga.


Karya seni lukis modern dengan inspirasi wayang yang dipamerkan di The National Art Gallery (The Palace), Sofia, ini memesona dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat Bulgaria. Salah satu pencinta seni, Mariana Iteva, mengatakan karya wayang modern Sasya Tranggono merupakan interpretasi Alkitab yang indah dan berbeda dengan seni lukis tradisi Eropa Timur. Lukisan Last Supper sangat mengesankan dan inspiratif sehingga memberi dimensi lain bagi pemahaman seni lukis Indonesia khususnya di Bulgaria.



Sasya Tranggono (kanan) di kedutaan Indonesia di Bulgaria.


Ditinjau dari kajian sosiosemiotika, lukisan cat air “Kristus rasa Jawa” ini merupakan fenomena yang sangat menarik khususnya di era globalisasi. Era globalisasi telah mengikis ruang, waktu, dan jarak, sehingga dunia seolah tanpa sekat. Ruang-ruang budaya pun terbuka lebar, sehingga seniman dengan leluasa dapat ‘meracik’ konsep kebudayaan yang bersifat lintas budaya. Terjadinya pemindahan fungsi dan makna objek dalam satu budaya ke dalam budaya lainnya menjadi spirit kreativitas dewasa ini. Lukisan Wayang dengan tema spiritual merupakan babakan baru dalam perjalanan Sasya sebagai seniman produktif. Hal tersebut sejalan dengan pilihan kehidupan senimannya, khususnya dalam mendalami nilai-nilai spiritual dalam keseharian. Kehadiran lukisan wayang modern di National Art Gallery Sofia, memilki makna penting khususnya dalam sejarah perkembangan seni rupa yang terkait dengan nilai-nilai religi.


Bulgaria sebagai bagian dari Eropa Timur memiliki peradaban panjang dalam sejarah seni lukis yang terkait dengan nilai-nilai spiritual. Hal tersebut dapat dilihat melalui beberapa koleksi yang terdapat di National Art Gallery Bulgaria, di mana karya-karya seni lukis dengan tema spiritual, khususnya agama Kristen, menjadi bagian dari perjalanan seni lukis Eropa Timur pada abad pertengahan. Perbedaan mendasar karya-karya seni lukis tersebut berakar dari tradisi melukis ala Barat, dengan pendekatan high art, sementara lukisan cat air Sasya Tranggono memiliki karakter berbeda, yaitu mengangkat kearifan lokal bangsa Indonesia, baik melalui pendekatan teknik maupun kekayaan budaya bangsa yaitu seni batik. Upaya memadukan konsep high art dan low art yang merupakan spirit seni rupa global, menjadi kekuatan tersendiri. Kehadiran seni lukis wayang modern Indonesia di Eropa Timur diharapkan dapat membuka ‘ruang sejarah’, khususnya di kawasan Eropa Timur, sehingga peran seni lukis modern Indonesia tercatat dalam lembaran sejarah seni rupa dunia.


Menurut Duta Besar RI untuk Sofia, Astari Rasjid, pameran ini sangat penting khususnya dalam hal diplomasi budaya, yaitu bagaimana kita dapat mengenal karakter satu bangsa antara lain melalui karya-karya seni. Pada saat pembukaan pameran, Astari Rasjid juga menampilkan sentuhan budaya Indonesia, yaitu Bali dan Jawa, di ruang terbuka. Pengunjung yang hadir pun mengagumi konsep open space dengan sentuhan budaya Indonesia.



Duta Besar RI untuk Sofia, Astari Rasjid (mengenakan kebaya merah), membuka pameran Wonders of Indonesia.


Sasya Tranggono yang lahir pada 25 Desember 1963 merupakan salah satu seniman perempuan Indonesia yang aktif dan konsisten berkarya dengan tema wayang. Ia menyelesaikan pendidikan di Syracuse University, New York, USA, bidang studi Industrial Engineering Operational Research, yang dilanjutkan ke pendidikan MBA di Rotterdam School of Management Erasmus Universiteit, Belanda. Pada usia 27 tahun ia memutuskan menjadi seniman. Kesungguhan dalam berkarya ditunjukkan dengan mengambil pendidikan di bidang seni rupa di Vrije Academie di Rotterdam, Leidschendam, Voorburg Netherlands. Sejak tahun 1999 ia aktif mengadakan pameran di dalam dan luar negeri, antara lain Jakarta, Bali, Yogyakarta, Belanda, Singapura, Kuala Lumpur, dan Ayala Museum di Manila, Filipina. Pada tahun 2003 karya lukis wayang Sasya terpilih menjadi finalis pada ajang bergengsi seni rupa Indonesia, CP Open Biennale. Sasya juga mengharumkan bangsa karena terpilih sebagai duta bangsa dan pembicara mewakili Indonesia pada APEC 2012 dan Women and The Economic Forum 2012 di St. Petersburg Russia.


(Penulis Citra Smara Dewi adalah Kurator Galeri Nasional Indonesia dan Dosen FSR IKJ)

Foto: Dok. Sasya Tranggono