Seni Merancang Sepatu ala Giuseppe Zanotti

Inilah cerita yang terlontar dari desainer sepatu Giuseppe Zanotti mengenai kecintaannya terhadap musik dan estetika sepatu wanita



Bila Anda mengaku sebagai pencinta fashion terutama sepatu, tentu nama Giuseppe Zanotti sudah tidak asing lagi. Label sepatu bergengsi yang telah eksis sejak pertengahan era '90-an ini dikenal secara luas akan desainnya yang unik, bold, dan kaya akan detail atraktif.

Tak hanya itu saja, keberaniannya untuk bereksperimen dengan beragam material dan siluet hak sepatu menjadikan karya-karyanya kian unik dan one of a kind.


Beberapa saat yang lalu, Bazaar berkesempatan untuk melakukan sesi wawancara dengan sang desainer dan berbincang mengenai banyak hal. Berikut kutipan wawancara kami:

Harper's Bazaar Indonesia (HBI): Apa yang mendorong Anda untuk menjadi seorang desainer sepatu?
Giuseppe Zanotti (GZ): Ketika saya berusia tujuh atau delapan tahun, ibu saya memiliki sepasang sepatu berwarna abu-abu yang terbuat dari kulit sapi. Di mata saya, sepatu itu terlihat sangat indah dengan ujungnya yang lancip.

Dari sanalah saya menyadari untuk pertama kalinya betapa kaki wanita dapat terlihat benar-benar berbeda hanya dengan mengenakan sepasang sepatu yang tepat. Saya pun bermimpi untuk dapat mendesain sepatu yang spektakuler agar wanita yang mengenakannya dapat merasa cantik dan unik.

HBI: Lalu bagaimana Anda mewujudkan mimpi-mimpi tersebut?
GZ: Saya memulainya dengan membuat sejumlah sketsa di meja belajar saya di rumah. Namun menggambar saja tak cukup, saya ingin mewujudkan ide-ide desain yang berkelebatan di kepala untuk menjadi nyata.

Akhirnya saya mulai mencoba menggunakan bahan kulit, kertas, dan kain untuk menciptakan prototype yang tepat, serta modeling clay untuk membuat hak sepatu.


HBI: Seperti apa proses Anda dalam mendesain sepatu?
GZ: Sketsa tangan telah menjadi elemen utama dalam proses desain saya. Setiap musim, saya menyerap inspirasi di sekitar saya—mulai dari orang-orang yang saya jumpai di jalanan, kelab malam, festival seni dan musik, hingga energi positif dari tempat-tempat yang saya kunjungi saat berpelesir.

Saya padukan semua inspirasi tersebut, kemudian saya ambil secarik kertas dan mulai menuangkan ide-ide ke dalam sebuah sketsa.

HBI: Faktor apa saja yang menjadi ciri khas dan kekuatan dari karya Anda?
GZ: Untuk menyempurnakan sketsa yang saya ciptakan, faktor seperti kualitas craftsmanship terbaik dan inovasi menjadi perhatian utama. Hal ini penting untuk mewujudkan harmoni yang seimbang antara garis gaya Rock'n'Roll dan jiwa klasik yang tercitrakan dari kreasi saya.

Tim di Giuseppe Zanotti terbiasa melakukan riset akan material, teknik, dan struktur baru yang dapat diaplikasikan ke dalam desain sepatu. Tak ketinggalan aksen embellishment dan garnishment yang menjadi bintang sekaligus ciri khas dari koleksi saya.


HBI: Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi sebagai desainer sepatu dan bagaimana Anda menyiasatinya?
GZ: Seiring dengan berkembangnya label Giuseppe Zanotti, saya kerap mendesain sepatu untuk sejumlah musisi ternama untuk konser-konser mereka.

Belum lama ini saya menciptakan sepatu boots untuk Lady Gaga yang dikenakannya pada Joanne World Tour 2017. Mendesain sepatu untuk performa di atas panggung memiliki tantangannya sendiri, karena ia harus benar-benar unik dan mampu merefleksikan karakter sang penyanyi namun ia juga harus sangat praktis dan nyaman. It requires great attention to details!

Saya pun mempelajari bahwa sepatu boots dapat menjadi staple shoes bagi para musisi karena mampu menyokong postur tubuh dengan tepat ketika menari di atas panggung. Hak balok dan sol karet juga menjadi andalan agar pemakainya merasa percaya diri dan 'aman'.

HBI: Anda sangat mencintai musik dan sepatu. Bagaimana Anda memadukan keduanya?

GZ: Musik telah menjadi bagian dari DNA Giuseppe Zanotti, sekaligus sumber inspirasi bagi saya. Bahkan rasanya bila saya tidak menjadi desainer sepatu, saya ingin menjadi disc jockey!

Itulah mengapa saya selalu senang berkolaborasi dengan para musisi dan menyerap ide-ide artistik yang datang dari mereka, kemudian saya menarasikannya kembali ke dalam desain saya. Ini adalah sebuah proses afeksi yang kasat mata, namun saya sangat menikmatinya.

(Foto: courtesy of Giuseppe Zanotti)