Mengulik Makna Savoir Faire dalam Kamus Fashion

Bazaar Indonesia mengupas elemen tradisi kerja tangan yang memberikan brand-brand seperti Fauré Le Page, Louis Vuitton, Dior, dan Chanel predikat prestisius.

(Foto: Courtesy of Fauré Le Page)


Mendengar kata savoir faire, terlintas di kepala sepenggal lirik lagu oleh RuPaul Charles berjudul Supermodel. Lagu yang menjadi salah satu anthem masa kejayaan dunia mode di tahun ‘90-an ini melantunkan; “It doesn’t matter what you wear, they’re checking out your savoir faire.”

Savoir faire yang dimaksud dalam konteks ini berakar pada sastra Prancis yang berarti tata cara yang sesuai dengan konteks sosial. Ketika seseorang memiliki savoir faire, ia memiliki kepekaan diri sekaligus sensibilitas duniawi yang dapat menyesuaikan diri terhadap ragam lingkungan dengan normanya masing-masing. Dengan lain kata, pengalaman hidup dan karakter berbobot, ditunjang oleh presentasi eksterior yang impresif dapat membuat seseorang menjadi terpandang, tetapi bukan sebaliknya. Hanya saja, savoir faire memang terpancar secara konkret dan dapat dirasakan oleh sekitarnya melalui gelagat gerak-gerik, perilaku, cara berbicara, serta cara berpakaian seseorang.

Konsep yang sama telah dianalogikan pada konteks seni, termasuk mode. Di balik setiap karya istimewa bernilai tinggi, tertuang dedikasi seorang perajin tangan yang mungkin subtil namun berdampak besar. Ya, definisi savoir faire di dunia mode senantiasa diperluas seiring berkembangnya waktu dan teknologi. Namun pada dasarnya, savoir-faire dalam konteks mode merupakan warisan keterampilan hasil kerja tangan yang menjanjikan karya seni fungsional yang tidak sebatas apik, tetapi juga sarat makna dan sejarah.

Fauré Le Page Calibre

Penerapan unsur savoir faire memiliki peranan unik bagi setiap rumah mode. Hal ini terngiang melalui rangkaian tas ‘Calibre’ dengan detail potongan senjata api dari Fauré Le Page yang nyatanya memiliki latar belakang di dunia perburuan dan persenjataan. Bentuk tribute terhadap sejarah melalui unsur desain disempurnakan lewat keuletan teknik screen printingmotif monogram, serta manufaktur tangan yang menjanjikan presisi jahitan serta perekat yang kuat dan tahan lama. Perkawinan ini menjadikan setiap lansiran Fauré Le Page kaya akan elemen savoir faire.

Fauré Le Page Calibre

Sudut historis brand asal Prancis ini juga terpampang melalui intrikasi monogram ikonis écailles-nya pada rangkaian tas, dompet, dan aksesori kulit lainnya. Repetisi motif yang menyerupai sisik ikan nyatanya merupakan simbol khas yang tampil pada kain-kain dan aksesori perkakas berburu. Pilihan warna cenderung redam dan gelap juga memiliki makna tersendiri yang konsisten dengan sejarahnya, seperti abu-abu baja yang mengundang visual barel senjata api, serta cokelat tua seperti bagian kayu dari senapan.

Bisa dibilang, savoir faire awalnya memiliki peranan terbesar dalam pembuatan tas dan koper. Paralel dengan invensi kereta api dan meningkatnya transportasi jarak jauh antar kota, bahkan negara, muncul juga kebutuhan masyarakat untuk kompartemen leluasa yang tahan banting untuk menempuh perjalanan yang lama. Pada tahun 1858, Louis Vuitton melansirkan Louis Vuitton steamer trunk pertamanya. Mengingat teknologi baru rel dan kereta api yang jauh dari sempurna pada saatnya, konstruksi trunk dengan bagian permukaan atas yang datar mencegah koper untuk bergeser dan terjatuh saat menempuh perjalanan yang penuh goncangan.

Louis Vuitton Steamer Trunk

Selain itu, Louis Vuitton juga membanggakan kunci pengaman kopernya yang terkenal unpickable, tidak dapat diakali atau dibuka selain dengan kuncinya. Sangat yakin dengan invensi revolusioner ini, Louis Vuitton pun sempat menantang ilusionis escape artist, Henry Houdini, untuk mencoba keluar dari salah satu trunk-nya. Setelah ditolak oleh Henry, kepakeman kunci pengaman Louis Vuitton semakin dipandang kredibel.

Segera memasuki abad kedua eksistensi brand luxury asal Prancis ini di lanskap mode sekaligus lifestyle, kompartemen trunk dengan monogram ikonis LV-nya tetap dipertahankan sebagai ciri khas. Melalui inovasi modern dan rekonstruksi imajinatif, siluet trunk senantiasa diabadikan lewat format tas crossbody, portable shower, ranjang, cocktail box, meja sekretaris, party trunk, dan masih banyak lagi.

(Dari kiri: Party Trunk, Cocktail Box, Secrétaire Bureau 2.0)

Interpretasi Trunk

Selain itu, Louis Vuitton juga menjadi salah satu brand luxury pertama yang mengedepankan konsep kolaborasi sebagai salah satu cara melestarikan budaya savoir faire-nya. Di bawah naungan Direktur Kreatif Marc Jacobs, Louis Vuitton mengembuskan napas baru pada siluet-siluet lawas lewat filter kontemporer seniman Stephen Sprouse, Takashi Murakami, Yayoi Kusama, dan Richard Prince. Hal ini menghadirkan rangkaian tas dan aksesori kulit yang menjembatani nilai prestise turun-temurun savoir faire dengan gairah komersil. Nyatanya, di Louis Vuitton, “savoir faire is everything.”

Kolaborasi Louis Vuitton dengan Richard Prince, Yayoi Kusama, Stephen Sprouse, dan Takashi Murakami.

Di tengah iklim fashion dan ekonomi yang cenderung berpihak pada fenomena fast fashion, sederet rumah mode, terutama Dior dan Chanel, gemar menyorot proses savoir-faire di balik busana dan aksesorinya yang memang mengutamakan kualitas dibanding kuantitas. Melalui video-video yang diunggah di kanal YouTube-nya, konsumen dan penikmat fashion dapat melihat secara rinci dan up close proses pembuatan sebuah garmen, tas, sepatu, maupun aksesori. Mulai dari potongan kulit serta topstitching motif cannage yang presisi pada setiap tas Lady Dior, penjahitan ornamentasi payet yang begitu rumit dan memakan waktu diatas jaket tweed legendaris Chanel, hingga aplikasi teknik-teknik adibusana seperti lipit, bordir, quilting, beading, draping, serta patchwork yang pastinya membutuhkan keahlian tersendiri.

Selain sebagai bentuk apresiasi terhadap perajin tangan yang dengan telaten menghidupkan rancangan seorang desainer, hal ini juga semakin menekankan nilai dari setiap lansiran atelier rumah-rumah mode ini. Ya, mungkin savoir faire di ranah luxury memiliki konotasi yang dapat dipandang elitis dan tidak mudah diakses oleh mayoritas orang. Namun, tradisi savoir faire senantiasa mengetengahkan sudut pandang berbelanja yang berbeda.

Dengan siklus supply dan demand yang kini semakin pendek demi menyesuaikan pergantian tren yang semakin pesat, limbah tekstil semakin menumpuk serta kualitas setiap barang mungkin tidak optimal. Sedangkan, melihat lemari nenek saya yang sudah berusia 79 tahun, masih terlihat tas-tas Louis Vuitton dan Chanel-nya dari dekade-dekade silam dalam kondisi yang prima. Pendekatan savoir faire terbukti menyuguhkan produk-produk berkualitas yang penuh pernyataan, sekaligus menjadi investasi yang berhak dihargai dan dirawat dengan baik. Who knows? Investasi tas Fauré Le Page terbaru Anda bisa saja dinikmati oleh buah hati Anda kedepannya.

(Penulis: Hans Hambali, Foto: Courtesy of Farfetch.com, Unvaluable.com, Louis Vuitton, Fauré Le Page, Chanel, Dior)