Covid Fatigue: Apa itu dan Apakah Mungkin Anda sedang Mengalaminya?

Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan bahwa pandemi ini juga akan berdampak secara emosional.



Sudah lebih dari delapan bulan sejak kita pertama kali mendengar tentang Covid-19 dan tujuh bulan lamanya sejak kebijakan karantina mandiri atau PSBB resmi diberlakukan oleh pemerintah. Selama waktu itu, tidak heran jika banyak dari kita mulai merasa kecewa dan lelah dengan pandemi dan aturan PSBB yang terus berlangsung yang, meskipun sepenuhnya diperlukan, membuat hidup kita menjadi kurang menyenangkan.

Jika Anda merasa seperti ini, pahamilah bahwa Anda tidak sendiri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa ada begitu banyak orang di seluruh dunia yang mengalami sikap apatis sehingga WHO memunculkan istilah, "kelelahan akibat pandemi" atau Covid Fatigue. Bahkan diperkirakan orang yang mengalami hal ini telah mencapai lebih dari 60% .

APA ITU COVID FATIGUE?

WHO mendefinisikannya sebagai "demotivasi untuk mengikuti perilaku protektif yang direkomendasikan, muncul secara bertahap dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh sejumlah emosi, pengalaman, dan persepsi". WHO juga mengatakan itu adalah "respons alami" terhadap krisis kesehatan global yang berkepanjangan, terutama pada tahap ini. Ini memanifestasikan dirinya dalam keengganan untuk mengikuti pedoman dan rekomendasi, entah itu melakukan jarak sosial dengan teman atau memakai masker, penurunan upaya untuk tetap mendapat informasi tentang pandemi, dan terakhir, memiliki persepsi risiko yang lebih rendah terkait Covid-19.

MENGAPA INI BISA TERJADI?

Ketika virus ini pertama kali menyerang, kami memanfaatkan "kapasitas lonjakan" yang merupakan "kumpulan sistem adaptif dari mental dan fisik yang digunakan manusia untuk bertahan hidup dalam jangka pendek saat menghadapi situasi yang sangat stres", tetapi seiring dengan pandemi yang terus berlanjut, kami menemukan cara lain untuk mengatasinya dan kelelahan serta demotivasi sering kali menjadi akibatnya.

Ada banyak alasan mengapa kita mungkin merasa apatis terhadap virus ini. Yang pertama adalah bahwa persepsi ancaman virus mungkin telah menurun dalam pikiran kita ketika kita terbiasa dengan kehadirannya, meskipun data medis menunjukkan sebaliknya (misalnya bahwa risikonya, di beberapa negara malah justru semakin meningkat).

Sembilan bulan setelah pandemi pertama kali muncul, kita lebih cenderung merasakan kerugian finansial, sosial dan pribadi yang datang sebagai akibat dari tindakan pencegahan seperti lockdown dan PSBB. "Untuk beberapa orang, keseimbangan dapat berubah, dan biaya yang dirasakan dari imbas pandemi ini mungkin mulai lebih besar daripada risiko yang dirasakan terkait dengan virus," lapor WHO.

Juga karena PSBB terus berlanjut atau aturan yang terus berubah dengan cara yang kita rasa tidak bisa lagi kita terima, kita mungkin merasakan adanya keinginan untuk bebas dan menentukan nasib kita sendiri.

MENGAPA INI BISA MENJADI MASALAH SERIUS?

WHO telah menerbitkan laporan panjang yang bertujuan untuk mengurangi angka demotivasi. Karena, meskipun kita semua tertular virus corona, kita harus terus melawannya. "[Covid Fatigue] merupakan ancaman serius bagi upaya pengendalian penyebaran corona," kata WHO. "Sampai vaksin atau pengobatan efektif tersedia, dukungan publik dan perilaku perlindungan tetap penting untuk dilakukan guna menekan angka penyebaran virus.

JADI, BAGAIMANA CARA KITA MENGATASINYA?

Dr Hans Henri Kluge, selaku direktur regional WHO untuk wilayah Eropa, percaya ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghidupkan kembali upaya mengatasi dan mencegah penyebaran virus ini lebih lanjut. Berbicara dengan BBC, ia mengatakan bahwa merasakan kebersamaan adalah kuncinya. Ia menyampaikan beberapa metode yang dapat dilakukan, antara lain:

- Pahami orang-orang dengan mengukur opini publik secara teratur dan akui kesulitan mereka
- Libatkan komunitas dalam diskusi dan dalam pengambilan keputusan sebagai bagian dari solusi
- Izinkan orang-orang untuk dapat tetap bebas menjalani hidup mereka, tetapi kurangi risikonya dengan mencari cara inovatif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat - misalnya, mengantarkan makanan kepada orang yang rentan atau mengatur pertemuan virtual

(Penulis:Harper's Bazaar UK; Artikel ini disadur dari Bazaar UK; Alih bahasa: Janice Mae; Foto: Courtesy of Bazaar UK)