Tahun itu 2016. Bazaar berada di Paris untuk meliput fashion week, kelelahan luar biasa, berpindah dari satu backstage ke backstage lain tanpa tidur demi melaporkan tren rambut dan makeup terbesar di dunia kecantikan. Di sela jadwal yang padat, kami punya beberapa jam luang dan memutuskan pergi ke pasar loak legendaris untuk berbelanja. Di saat yang hampir bersamaan, Kim Kardashian muncul di show Balenciaga beberapa kilometer dari sana tanpa sedikit pun pulasan makeup di wajahnya. Kulitnya tampak bercahaya. Ponsel kami tak berhenti bergetar. Bazaar menghentikan belanja, berdiri di tengah pasar, dan menulis berita itu langsung dari ponsel hanya dalam lima menit.
BACA JUGA: Menyimak 4 Tren Dari Dunia Kecantikan untuk Tahun 2026
Satu dekade kemudian, selebritas tampil tanpa makeup mungkin tak lagi terasa istimewa. Namun pada 2016, ketika alis tebal kaku, strobing berlebihan, dan Lip Kit meresap ke setiap sudut budaya populer, langkah Kim Kardashian terasa mengejutkan. Lebih dari itu, terasa visioner. Sosok yang identik dengan contouring dan highlighting ini justru menekankan tampilan kulit segar, sehat, dan glowing jauh sebelum hal itu menjadi standar kecantikan utama. Jauh sebelum era Hailey Bieber dan Rhode.
Bazaar teringat cerita itu karena apa yang terjadi di media sosial minggu ini: orang-orang menggulir kembali camera roll dan feed Instagram mereka, mengunggah ulang foto diri versi 2016. Banyak komentar berfokus pada “apa sebenarnya yang kita lakukan pada wajah kita saat itu.” Highlighter champagne tebal yang bisa terlihat dari luar angkasa. Lipstik cokelat matte. Cut crease tajam dengan concealer, alis terpahat presisi geometris, lapisan krim, bedak, glitter, dan tutorial demi tutorial tanpa henti.
Melihat kembali masa itu menghadirkan nostalgia pahit namun juga manis yang disertai kejernihan perspektif. Itu adalah puncak demokratisasi kecantikan tepatnya ketika beauty blogger menjadi figur arus utama dan membagikan “rahasia profesional” kepada publik. Belajar makeup seperti pro terasa memberdayakan. Untuk pertama kalinya, makeup terasa benar-benar dilakukan perempuan untuk diri mereka sendiri. Ia playful, kadang berlebihan, sering kali konyol, tapi penuh kegembiraan.
Tahun itu, wajah-wajah dipahat dengan ketajaman, kontras kuat, dan warna berani, dioptimalkan untuk kamera dan Instagram. Makeup menjadi cara untuk terlihat, untuk mengambil ruang, di bulan-bulan penuh optimisme menjelang pemilu ketika banyak orang percaya seorang perempuan akan memecahkan langit-langit kaca kekuasaan tertinggi.
Yang paling Bazaar ingat adalah optimisme yang kacau namun hidup. Brand dan produk baru bermunculan dengan gegap gempita, mulai dari The Estée Edit by Estée Lauder, Modern Renaissance Palette dari Anastasia Beverly Hills, hingga Skin Fetish 003 dari Pat McGrath Labs. Ratusan palet edisi terbatas dan kolaborasi YouTuber bermunculan, semua berebut ruang di industri kecantikan. Lalu akhir tahun itu datang seperti pukulan telak. Ketidakpastian merayap masuk dan untuk pertama kalinya euforia makeup terasa goyah. Kita semua mengingat apa yang terjadi setelahnya. Kita ada di sana.
Kini, satu dekade kemudian, banyak brand besar dari era itu telah berganti identitas, tutup, atau bahkan kehilangan relevansi. Kita memakai jauh lebih sedikit makeup, seperti yang pernah diprediksi Kim, dan beralih ke skincare sebagai bentuk self-care. Kita melakukan contouring dengan alat, bukan lagi palet. Alis disisir, bukan lagi distensil. Bibir glossy atau blur, pipi hanya semburat pink tipis. Bulu mata palsu menghilang, bahkan maskara pun mulai ditinggalkan. Tahun-tahun berat membuat kita memilih estetika yang lebih lembut.
Bazaar masih melihat bayangan tahun 2016 dalam cara kita membicarakan skincare dan wellness, terutama K-Beauty di 2026. Tapi kami ragu kita akan benar-benar kembali ke rasa yang sama, energi menular dari industri yang melaju menuju masa depan yang terang, berkilau, dan penuh harapan. Meski, jujur saja, Bazaar ingin suatu hari nanti terbukti salah.
BACA JUGA:
Capsule Wardrobe Versi Makeup, Apa Perlu Layaknya Dalam Dunia Fashion?
Rahasia Kecantikan dari Backstage Victoria’s Secret Fashion Show 2025
(Penulis: Jenna Rossenstain; Artikel disadur dari BAZAAR US; Alih bahasa: Anya C. Azalia Foto: Courtesy of BAZAAR US)